Kamis, 17 September 2009

LIMA MENIT LAGI

Tiada henti-hentinya ia melihat jam di tangannya.

“Ya Allah! Gimana nich, tinggal lima menit lagi” ucap Salman, seorang Pemuda yang sedang berjalan tergesa-gesa.

Di sore yang panas itu, ia berkeliling kota Jakarta untuk mencari pekerjaan. Bersama kicau suara burung gagak yang mengikuti arah matahari tenggelam. Ia berjalan dengan gundah di harti.

“uangku hampir habis, nanti buka puasa mau makan apa?” pikirnya.

Terus ia berjalan sambil memendam rasa lapar. Peluh keringat menghujani wajahnya. Kelelahan menemainya sejak siang tadi.

“Ya Allah, diriku ini adalah hamba-Mu yang lemah, tak berdaya, curahklanlah Rizki-Mu untuk memenuhi kebutuhan hamba-Mu ini”. Do’anya dengan penuh harapan.

Ditengah keputus asaannya, ia melihat sebuah mesjid di hadapannya. Tanpa pikir panjang ia pun menghampirinya. Sesampainya disana, ia duduk dilantai yag bertuisakan BATAS SUCI. Sekali lagi ia tengok jam tangannya.

“Tinggal tiga menit lagi” ucapnya pelan seperti orang yang kehabisan tenaga.
Dengan berbantalkan sebuah tas hitam, ia merebahkan dirinya diteras mesjid itu. Tak terasa pula iapun tenggelam dalam kantuk yang sangat sampai akhirnya ia pun tertidur pulas.

“GEMPA,… GEMPA… ALLAHUAKBAR…” teriak seseorang yang histeris bersama orang banyak.

“Astagfirullah, ada apa ini?” Ucap Salman yang terperanjat dan segera berlari menuju lapangan.

Hanya dalam hitungan detik, semua bangunan di sekitarnya telah roboh seketika, sedangkan gempa bumi masih meluapkan amarahnya.

“YA Allah, inikah kiamat?” ucapnya lagi dengan hati yang waswas.

“Hey, Mas........., Mas........, Bangun........, Bangun..........” ucap seseorang

“HAH............”ucap Salman terperanjat dari tidurnya.

“Sudah adzan maghrib mas, ini ada takjil dan sedikit makanan untuk berbuka” ucap orang yang membangunkannya.

“Terima kasih pak, jazakumullahu khairan katsiran” ucap Salman dengan rasa bahagia di hatinya.

“sama-sama” jawabnya

Tak terasa adzan maghrib pun berkumandang. Iapun menyantap takjil dan makanan itu dengan lahapnya. Ketika ia asyik ia makan, tanpa sengaja ia melihat sebuah pengumuman di sebuah mading. Disana tertuliskan bahwa mesjid itu sedang membutuhkan seorang guru ngaji untuk anak-anak.

“Ya Allah, mudah-mudahan pekerjaan ini berberkah untuk saya” Ucapnya dalam do’a yang penuh dengan pengharapan.

Maka setelah selesai makan, iapun segera mengambil air wudlu dan menunaikan shalat Maghrib. Setelah dzikir, ia pun bergegas menuju kantor DKM mesjid tersebut.

2 komentar:

Silahkan Tinggalkan Komentar anda disini.