Minggu, 07 Juni 2009

Indahnya senyuman pagi

Matahari memandikan cahayanya di pagi dingin sebuah kota. Taufik berjalan di tengah ramainya suasana kota. Ia berjalan cepat seolah sedang mengejar sesuatu. Dalam berjalannya itu, tak henti-hentinya ia menoleh jam tangan biru yang dikenakan di tangan kirinya. Dalam jam tanganya itu, jarum pendek telah menunjuk angka tujuh sedangkan jarum panjangnya menunjuk angka sebelas.

Ya Allah, semoga ku masih sempat tuk datang ke Sekolah tepat waktu” Ujarnya dalam hati.

Iapun mempercepat jalannya seolah tak peduli lagi atas apa yang ia injak.

Tak terasa iapun sampai di depan pintu gerbang sebuah Sekolah, keringatpun bercucuran membasuh tubuhnya yang lelah. Namun, kebetulan saat itu Pak Tatang, satpam Sekolahnya itu sedang tiada dan pintu gerbang pun terbuka walau jam telah menunjukkan pukul 8.15.

Dengan perlahan, Taufik berjalan mendekati gerbang itu, dilihatnya tiada seorang pun yang tampak menjaga gerbang itu, ia tak melihat Pak Tatang dengan pentungannya yang biasa duduk di sebuah meja yang tak jauh terletak dari gerbang itu, Taufik pun masuk ke gerbang itu dengan perlahan. Ia melirik ke kanan dan ke kirinya.

Wah aman nich!!” Ucapnya dalam hati

Langkah demi langlah ia lalui, tak lama setelah Taufik menarik nafas karena merasa aman, tiba-tiba saja.

Hei kamu! Diam di tempat” Teriak seseorang yang terdengar di lorong sekolah.

Taufik pun diam sambil menelan ludah dengan keringat dingin yang kembali membasahi tubuhnya.

Celaka”, ucap Taufik pelan dalam hati.

Mendengar teriakan dari Pak Tatang, Taufik teringat akan sebuah kisah yang sudah melegenda di Sekolah itu, yaitu sebuah cerita tentang orang yang datang kesiangan, namanya Sandi. ia pun pernah mengalami hal serupa dengan Taufik, yaitu masuk gerbang yang sedang kosong dari pengawasan Pak Tatang saat jam menunjukan pukul 8.10. ketika siswa yang bernama Sandi itu ketangkap basah oleh Pak Tatang, ia ditawari dua pilihan. Pertama, masuk ke kelas dengan hukuman push up 50 kali plus di suruh mengepel seluruh lorong Sekolah di tambah membersihkan toilet, kemudian yang paling mengerikan, ialah disuruh mencuci tiang bendera saat jam istirahat berlangsung. Atau pilihan yang kedua, yaitu kembali pulang dengan persyaratan harus terlebih dahulu menandatangani surat perjanjian bahwa besok akan datang pukul enam pagi. Saat itu Sandi pun memilih pilihan yang kedua, maka iapun kembali pulang kerumahnya, dan besoknya ia pun datang sesuai perjanjian yang disepakatinya. Namun apa yang terjadi? Ternyata Pak Tatang menyuruhnya un
tuk melakukan hal yang serupa dengan pilihan pertama yang ditawarkan kepadanya kemarin pagi, yaitu push up 50 kali plus mengepel seluruh lorong Sekolah di tambah membersihkan toilet serta mencuci tiang bendera saat jam istirahat berlangsung.

Teringat akan semua hal itu, Taufik hanya diam terpaku dengan seribu rasa takut yang bertumpuk dalam dadanya. Maka Pak Tatang dengan wajah garangya berjalan mendekati Taufik, gemetar kaki Taufik pun mulai menggoncangkan jiwanya.

Akankah aku selamat?” Tanya Taufik dalam hatinya.

Hei kaliaan berdua, kenapa kalian datang kesiangan”. Ucap Pak Tatang.

Taufik pun terheran-heran, ternyata ia di sana tak sendirian, dengan perlahan ia melihat kebelakang. Ternyata di belakangya berdiri sesosok perempuan berjilbab rapi, namanya Rahma.

Mata Taufik hanya menatapnya dengan hampa, ia merasa kasihan jika seandainya seorang Rahma yang baik dan pendiam itu harus mengalami hal yang pernah dialami oleh Sandi.

Sini kalian berdua” ucap Pak Tatang. “Duduk disini!”. Tambahnya lagi sambil menunjuk dua buah kursi yang tersedia di depan meja tempatnya duduk menjaga gerbang Sekolah.

Setelah mereka berdua duduk di hadapan Pak Tatang, lalu Pak Tatang pun mulai membuka buku daftar siswa kesiangan yang tergeletak dihadapannya.

Siapa namamu?” Tanya Pak Tatang kepada Taufik.

Taufik” jawab Taufik dengan dinginnya.

Terus yang satunya lagi?” Ucapnya lagi

Rahma Pak!” Jawab Rahma dengan pelan.

Pak Tatang pun dengan teliti melihat daftar siswa-siswa yang kesiangan. Setelah beberapa menit berlangsung, akhirnya Pak Tatang pun mulai menengadah dan menatap mereka berdua.

Taufik dan Rahma, sebelumnya kalian tak pernah kesiangan kan?” Tanya Pak Tatang.

Ya Pak!” Jawab mereka berdua.

Sebagaimana yang kalian ketahui, peraturan di Sekolah ini tidak akan tinggal diam melihat siswanya yang kesiangan, adapun hukuman bagi kalian berdua, ada dua pilihan, kalian kan tahu sendiri, bagaimana jenis kedua hukuman yang saya tawarkan itu, nah sekarang mulai dari kamu Taufik, kamu mau pilih yang mana?” Tanya Pak Tatang.

Baiklah Pak, saya pilih yang pertama saja” Jawab Taufik dengan ekpresi pasrah seperti orang yang menyerah angkat tangan saat berperang.

Ok, trus kamu Rahma, kamu pilih yang mana?” Ucap Pak Tatang.

Rahma hanya tertunduk diam. Detik demi detik pun berlalu, Rahma tidak memberikan jawaban selain air mata yang meleleh dari kedua matanya.

Pak!” Ucap Taufik sambil berdiri tegap. “Izinkan saya untuk mendapat hukuman double asalkan Rahma bebas dari hukuman”.

Apa? Kamu jangan jadi sok pahlawan” ucap Pak Tatang dengan nada sedikit meninggi.

Kumohon Pak, aku tidak tega melihat orang seperti Rahma harus menjalani hukuman yang begitu berat bagi seorang perempuan” Ucap Taufik.

Tidak bisa begitu, setiap siswa yang kesiangan harus menerima hukuman sebagai pelajaran atas apa yang dilakukannya” Ucap Pak Tatang.

Ku mohon Pak, pertimbangkan kembali hukuman yang akan di berikan kepada Rahma” Ucap Taufik.

Ditengah perbincangan antara Taufik dan Pak Tatang, Rahma hanya bisa diam dan menatap Taufik dengan penuh harapan semoga nasibnya bisa lebih baik dengan menerima hukuman yang lebih ringan baginya.

Setelah lama mereka berdua adu tawar, akhirnya Pak Tatang pun terdiam sejenak, kemudian berkata. “Yach, karena melihat kalian berdua sebelumnya tak pernah kesiangan sama sekali, Terus melihat kau Rahma, aku pun ikut merasa kasihan, baik begini saja, kau Taufik! Jalani saja hukuman yang kau pilih tersebut, terus kau Rahma! Bantu saja Taufik ketika mengepel lorong dan mencuci tiang bendera.” ucap Pak Tatang kepada mereka berdua.

Dengan segera pula Taufik memulai push up, kemudian mengepel lorong sekolah dam membersihkan toilet dengan dibantu oleh Rahma. Setelah semuanya hampir selesai, tinggal yang terakhir ialah membersihkan tiang bendera saat istirahat nanti. Dan mereka berdua pun masuk kelas dan belajar seperti biasanya.

Waktu istirahat pun tiba, Taufik dan Rahma pun berdiam sejenak, mereka diskusi kecil tentang siapa yang akan mencuci tiang bendera nanti? Sedangkan Pak Tatang sudah tampak menunggu mereka berdua di tengah-tengah lapangan.

Duh! Gimana nich, aku tak berani tuk mencuci tiang bendera dihadapan semua teman-teman” keluh Rahma.

Biarlah, aku saja yang membersihkannya” ucap Taufik.

Tapi, kita berdua kan yang harus menjalani hukuman ini” Ucap Rahma.

Hei kalian berdua! Cepat kesini dan lakukan tugas kalian” Teriak Pak Tatang

Sudahlah, biar aku saja yang membersihkannya, nanti giliranmu untuk membereskan lap dan ember saat aku selesai mencucinya” Ucap Taufik

Rahma pun hanya bisa diam dan menuruti apa yang diucapkan oleh Taufik. Dan Taufik pun segera berjalan menuju lapangan dengan berselendangkan sebuah lap dan sebuah ember di tangan kanannya. Bersamaan dengan itu pula, riuh teriakan dan tertawaan dari siswa-siswa yang lainnya turut meramaikan suasana.

Setelah Taufik selesai mencuci tiang bendera dan melakukan istirahat sejenak, dan Rahma pun selesai pula mencuci lap yang di Pakai oleh Taufik. Mereka berdua kembali memasuki kelas untuk kembali di meneruskan belajar, walau pun harus di hantam oleh cercaan serta tertawaan dari teman-teman sekelasnya.

Ditengah-tengah terik mentari yang semakin membakar, di sertai suara bel pulang Sekolah berbunyi, Taufik pun pulang seperti biasanya. Namun di tengah kelelahan yang dihadapi tadi pagi, tiba-tiba terdengar sebuah suara.

Taufik! Tunggu dulu sebentar” teriak seseorang yang memanggil di belakangya.

Taufik pun menoleh dan menunggu orang tersebut untuk menghampirinya.

Taufik, aku tak tahu harus bilang apa sama kamu, mungkin hanya ucapan terima kasih atas kebaikanmu tadi pagi” ucap Rahma

Sama-sama, tak perlu dipikirkan, asalkan kita mau berusaha untuk menolong orang lain, Allah pasti akan memberikan jalan yang termudah untuk kita lalui” ucap Taufik.

Keesokan harinya, mereka berdua datang lebih pagi dari pada hari kemarin, didepan mading terpampang sebuah pengumuman bahwa peraturan tentang hukuman bagi yang kesiangan di hapuskan dengan catatan bagi yang datang terlambat lebih dari 10 menit dilarang masuk ke Sekolah, dan yang datang terlambat kurang dari 10 menit, harus menghadap terlebih dahulu kepada guru piket dan tidak boleh mengikuti pelajaran jam pertama.

Melihat pengumuman tersebut, Taufik dan Rahma hanya bisa tersenyum dan mereka pun segera masuk ke kelas untuk bersiap-siap mengikuti KBM.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Tinggalkan Komentar anda disini.