Ketika sang rembulan datang menyinari, saat itu jarum jam menunjukan pukul 10 malam. Ditengah kegelapan malam itu, ada tiga bocah yang sedang mencari belut di pematang sawah. Hanya berbekal lentera di tangan kanan dan tongkat pemukul ditanan kiri.
“Masa sih sampai jam segini kita hanya baru dapat lima ekor belut” Cetus jana, bocah kelas Dua SMP yang sedang mencari belut tuk dapatkan uang jajan buat besok.
“Eh, jangan gitu, walaupun hanya lima ekor, kita harus bersyukur dari pada kagak dapat sama sekali” Ucap kiki, teman sejawatnya.
Sementara itu, tiba-tiba saja ada seekor ular berjalan dihadapan mereka .
“Awas, hati-hati, disana ada ular” Jawab lukman.
“Mana-mana….!!!” Ucap jana.
Dengan hati-hati, jana menghampiri ular itu. Lalu ia melemparkan sesuatu kepada ular itu.
“Hei jana, hati-hati, kita biarkan saja ia pergi…” ucap kiki.
“Eh tunggu dulu, kalo kita tangkap ular ini, lalu kita jual ke Pak Kudir si pawang ular, kan lumaya bisa nambah uang saku” Ujar jana
“Ah, jangan jana, terlalu besar resikonya, nanti kalo kamu digigit ular itu, gimana…?” Ucap lukman.
“Sudah kalian tunggu saja disana biar ku tangkap ular ini dengan sarung yang kubawa ini” Ucap jana.
Dengan hati-hati, jana mendekati ular itu. Walau pun tubuhnya gemetar berbalut keringan karena masih menyimpan rasa takut, tapi ia tetap nekat tuk mendapatkan ular itu.
Dengan serentak, ular yang tadinya sedang berjalan tenang itu, melihat jana yang sedang mendekatinya. Maka iapun dengan segera berdiri dengan menunjukan taringnya.
“Hati-hati jana” Teriak lukman dari kejauhan.
Maka dengan segera jana melemparkan sarungnya kearah ular itu, tapi apa yang terjadi? Ular itu bisa mengelak dengan berjalan ke arah kiri, lalu ia berjalan mendekati jana. Maka dengan serentak jana pun mundur dengan ketakutan.
“Tolooooooong…..” teriak jana.
Dengan segera mereka pun berlari menjauhi ular tersebut.
“Aduh, gimana nih, sarungku ketinggalan disana” Ucap jana yang menyesalkan perbuatannya tadi.
“Kamu sih yang kurang sabar dengan hasil tangkapan kita” Ucap lukman.
“Sudahlah, kita tunggu sebentar, kalo ularnya sudah tidak ada, kita ambil sarung itu” Ucap kiki guna menenangkan suasana.
Tak lama setelah itu, ular tadi pun pergi dan mereka pun bisa mengambil sarung nya jana.
“Sekarang sudah pukul 10 lewat 30 menit, sedangkan kita hanya baru dapat belut lima ekor” Keluh jana.
“Tenang aja, kalau pun hanya sedikit, kita mesti syukuri, siapa tahu Allah akan menganugrahkan rizki yang melimpah kepada hambanya yang bersyukur” Ucap kiki.
“Kita berjalan saja, kalau sudah sampai pukul sebelas kita masih gak dapat apa-apa, kita pulang aja” Tambahnya.
Merekapun berjalan menyusuri pematang sawah. Dengan bermodalkan sebuah lentera dan pemukul belut, mereka tetap semangat berjalan mencari belut.
“Hei, lihat itu….!” Ucap lukman
“Ada apa?” ucap jana yang keheranan.
“Lihat disana, ada sawah yang baru dipanen, biasanya disana banyak belutnya” Ucap lukman.
“Wah bener” Ucap jana.
“Ayo tunggu apa lagi, kita ke sana” ucap kiki.
Merekapun berjalan dengan semangatnya menuju sawah yang baru dipanen tadi siang itu. Sesampainya disana.
“Hei lihat, disana ada belut” ucap lukman.
“Mana-mana, biar aku saja yang memukulnya” ucap jana.
“Disana juga ada belutnya” Ucap kiki.
“Wah benar, disini memang banyak belutnya” Ucap lukman.
Akhirnya merekapun berpencar tuk mendapatkan belut, dan tak lama kemudian ember merekapun kini dipenuhi oleh belut. Dan merekapun pulang ke rumah dengan hasil tangkapan yang memuaskan.
*******
Kamis, 19 Maret 2009
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)


0 komentar:
Poskan Komentar
Silahkan Tinggalkan Komentar anda disini.